Kafetaria Kampus II FKIP UNLAM Banjarmasin Jendela = Pintu

Dalam sejarahnya, pada awalnya manusia menggunakan gua-gua sebagai tempat tinggal. Gua yang memiliki pencahayaan yang cukup, tidak jauh dari sumber air, serta tidak mudah dijangkau oleh binatang buas. Gua digunakan sebagai tempat tinggal dimana mereka melakukan segala aktifitas kehidupan di dalamnya mulai dari makan dan membuang sisanya (karena mereka belum mengenal tempat sampah), istirahat, melahirkan, sampai buang air.  Seiring dengan perkembangan pola pikir manusia yang selalu melakukan adaptasi dengan lingkungannya, manusia kemudian mendapatkan pemikiran tentang sebuah tempat tinggal yang lebih nyaman. Manusia kemudian mengenal rumah sebagai tempat tinggal.
Rumah memiliki bagian-bagian yang lebih spesifik dengan fungsi-fungsi yang terdapat di dalamnya. Ada ruangan tempat tidur, ruang makan, dan sebagainya. Selain itu, rumah juga memiliki pintu dan jendela yang fungsi-fungsinya ada terdapat perbedaan, seperti pintu sebagai akses keluar-masuk dan sebagai sarana untuk menghalangi binatang masuk. Jendela juga memiliki fungsi untuk mempermudah sirkulasi udara dan sebagai pengontrol pencahayaan dalam rumah.
Berdasarkan perkembangan kebudayaan di atas, ada sebuah hal yang sangat bertolak-belakang yang terjadi di Kampus II FKIP UNLAM Banjarmasin. Mengapa?
Kemarin, saat kami ada kuliah di Aula Kampus II, ada sebuah pemandangan yang sangat aneh. Ada mahasiswa yang keluar dari jendela salah satu ruangan, bahkan tidak hanya itu, mahasiswi dan bapak-bapak (entah dosen atau bukan) juga keluar dari jendela tersebut. Ada apa dengan cinta?
Setelah diselidiki, ternyata ruangan tersebut adalah kafetaria. Mengapa harus lewat jendela? Apakah tidak ada pintu?
Pintu yang ada di bagian depan kafetaria digembok dari luar, dan akses untuk masuk ke kafetaria hanyalah pintu yang ada di bagian belakang (letaknya di luar pagar) dan jendela yang ada di sekelilingnya. Untuk dapat masuk melalui pintu belakang, kita harus berputar dulu ke gerbang depan, baru kemudian ke bagian samping kampus. Karena terlalu jauh dan (mungkin) pengelola takut kehilangan pelanggannya, maka jendela pun dibuka selebar-lebarnya dan disediakan sebuah kursi (yang sering kita gunakan untuk kuliah) di bawahnya agar dapat dengan mudah dipanjat oleh pelanggannya tersebut.
Kalau dibandingkan dengan kebudayaan orang Eskimo yang memiliki rumah Iglo, yang akses keluar-masuknya hanya satu, sepertinya tidak relevan. Orang Eskimo hidup di Kutub Utara yang suhunya sangat dingin sehingga mereka membangun rumahnya seperti itu dengan tujuan agar suhu yang ada di dalamnya lebih tinggi. Kalau kita? Pintu sudah disediakan dan jendela juga punya fungsi sendiri. Kalau kunci gemboknya hilang, mengapa tidak diganti dengan gembok yang baru? Atau mungkin ingin kembali seperti manusia gua (cave-man)?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s